Percepat Hilirisasi Tambang, Pembangunan 32 Smelter Dikebut

Tambang

Kementerian ESDM mengebut pembangunan 32 fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) untuk mencapai target 53 smelter yang beroperasi pada 2023-2024, dari saat ini 21 smelter. Pembangunan smelter guna mendukung percepatan hilirisasi tambang sesuai perintah Presiden Joko Widodo. 

Presiden menyatakan bahwa Indonesia akan terus mengakselerasi pembangunan hilirisasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi bangsa, dan negara.

Ke depan, tidak boleh lagi ada ekspor bahan mentah, melainkan hanya produk jadi dan minimal produk setengah jadi.

“Hilirisasi adalah gerbang emas untuk mewujudkan Indonesia emas tahun 2045,” kata Presiden dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi media nasional di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/01/2022).

Presiden yakin, dengan hiliridasi di bidang pertambangan, migas, perkebunan, dan pertanian, PDB Indonesia akan terdongkrak. Lonjakan ekspor 2021 yang mencapai 38,3% dikontribusi oleh industri manufaktur.

Dengan hilirisasi, ekspor nikel melonjak dari US$ 1,1 miliar tahun 2014 ke US$ 20,9 miliar tahun 2021. Hilirisasi adalah satu satu bagian dari transformasi ekonomi. Indonesia menghentikan ekspor komoditas dan beralih ke ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Sukses hilirisasi nikel dengan kebijakan melarang ekspor bijih nikel kadar di bawah 1,7% mulai 1 Januari 2020 akan dilanjutkan dengan melarang ekspor bijih bauksit pada akhir tahun 2022, dan kemudian bijih tembaga pada tahun 2023.

Pembangunan smelter merupakan upaya peningkatan nilai tambah mineral sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba). Kementeran ESDM menargetkan 28 smelter beroperasi pada tahun ini, meskipun realisasi tahun lalu tidak sesuai target.

Sedangkan pada 2023-2024 sebanyak 53 smelter yang beroperasi dengan total nilai investasi mencapai US$ 21,6 miliar. Hingga akhir 2021, tercatat sebanyak 21 smelter yang beroperasi sejak tahun 2012. Realisasi tersebut lebih rendah dari target 23 smelter. Artinya, hanya ada penambahan dua smelter dari target lima smelter.

Beberapa smelter yang ditargetkan rampung di tahun lalu ada yang bergeser di tahun ini. Dengan demikian, tahun ini diharapkan ada penambahan 7 smelter yang beroperasi sehinga totalnya menjadi 28 smelter.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, dua smelter yang rampung di tahun lalu ada yang sesuai target maupun lebih cepat dari target.

Dia menjelaskan, PT Cahaya Modern Metal Industry merampungkan proyeknya tepat waktu. Smelter yang berlokasi di Banten itu memproduksi nickel pig iron (NPI).

Sedangkan PT Halmahera Persada Lygend yang memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP) menyelesaikan proyeknya lebih cepat dari target. Smelter yang berada di Maluku Utara itu sedianya rampung pada 2022 ini.

“Tiga smelter yang seharusnya selesai di tahun lalu ditargetkan rampung pada tahun ini. Target smelter tahun ini jadi 28 smelter (beroperasi),” kata Ridwan dalam jumpa pers Kamis (20/1).

Sumber: Investor.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.